Inilah Beberapa Penyebab Tiba-Tiba Merasa Cemas Dan Kawatir


zonaberbagi.com Ada beberapa jenis kecemasan yang terhubung pada struktur otak kita. Yang pertama dikenal dengan sebutan preconscious anxiety, yang berkorelasi secara langsung pada objek yang dianggap berbahaya.
Misalnya, saat seseorang melihat sesuatu, seperti ular berbisa, sinyal neuronal ditransimisi ke area otak yang bernama amigdala. amigdala pada dasarnya berfungsi sebagai sistem alarm otak, yang merespons dan memberi sinyal langsung dari pusat kendali. Itulah sebabnya saat kita cemas, tubuh langsung bereaksi tanpa kita atur: pupil melebar, jantung jadi lebih cepat, dan peredaran darah ke otot lebih lancar, jadi membuat kita bisa kabur secepat mungkin.
Pada dasarnya, amigdala merespons lebih cepat, jauh sebelum kita sadar akan apa yang terjadi di sekitar. Kecemasan 'pra-sadar' semacam itu membuat kita tanggap terhadap bahaya yang mengancam nyawa.
Jenis kecemasan yang kedua lebih berjarak dari objek berbahaya. Kita menyebutnya anticipatory anxiety. Siapa pun yang tak bisa diam mengkhawatirkan soal rapat penting di esok hari pasti mengerti soal kecemasan seperti ini.
Dengan kecemasan antisipatoris, kita mengalami kecemasan di tingkatan sadar, sembari memikirkan peristiwa yang akan datang. Kecemasan yang timbul pada saat-saat seperti itu mengaktivasi amigdala dan korteks, bagian tengah otak yang lebih kompleks.
Kedua bagian otak ini seperti saling berdebat, di mana amigdala memberi sinyal rasa takut ("Rapat besok bakal kacau!") sementara korteks mencoba merasionalkan ketakutan yang tak berlandasan itu ("Tapi kan aku sudah berpengalaman memimpin rapat…").
Meski permainan ping-pong psikologis ini tidak terasa menyenangkan bagi yang menjalani, kecemasan antisipatoris bisa bermanfaat karena hal ini bisa memperbaiki performa kita. Yang menarik, kecemasan kita seputar peristiwa tertentu berhubungan dengan evolusi leluhur kita. Hal ini disebut evolutionary anxiety.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa imej ular dan laba-laba, misalnya, menimbulkan rasa takut universal yang lebih besar dibandingkan imej lain. Salah satu penyebabnya adalah, amigdala menyimpan banyak ingatan evolusioner seputar penyebab kematian nenek moyang kita. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa manusia lebih awas terhadap ular.
Kondisi tersebut mengafirmasi kesimpulan bahwa amigdala menyimpan ingatan sampai mempengaruhi evolusi kecemasan. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang dapat lebih cepat mendeteksi wajah marah ketimbang wajah gembira dalam kerumunan. Kecemasan evolusioner membuat kita mampu mengambil sikap dan tindakan yang benar dengan maksud menyelamatkan diri.
Yang merasakan manfaat dari semua ini tentu diri kita sendiri. Kecemasan seringkali tampak merugikan dan bahkan bisa melumpuhkan. Namun memahami mekanisme dan asal mula perasaan ini membantu kita lebih sadar soal fungsi kecemasan.
Moga-moga, dengan menyadari bahwa kecemasan bisa bermanfaat, kita jadi lebih bisa menerima kecemasan dan rasa takut kita sendiri.